Kamis, 24 Mei 2012

Jogja Nasional Museum (EYD versien)

Apa kabar dengan-nya?

sedikit bernostalgia, ketika aku masih kecil dulu (maaf kalimatnya ngga efektif) aku sering berkunjung ke tempat ini lho.. dan baru tau namanya sekarang. tempat ini menjadi saksi dimana aku belajar mengendarai sepeda untuk pertama kali, jadi aku sering barmain di tempat ini, mengendarai sepeda berkeliling bangunan ini, emang agak serem sih kalo malem, untungnya aku maennya sore hari. di depan gedung ada pohon beringin, entah sekarang masih ada apa sudah ditebang. di batang pohon itu aku pernah membuat sayatan namaku, mungkin sekarang sudah semakin tinggi. tapi sekarang gedung ini menjadi bagus, dan digunakan sebagai pameran seni rupa oleh orang2 kreatif asal jogja, maupun dari luar jogja. terakhir masuk gedung itu 3 tahun yang lalu dan dalemnya sudah di cat ulang dan bagus.. yang punya info tentang gedung ini silakan bisa kasih tahu saya hehe.. 

 


Sabtu, 17 Maret 2012

A ball floating in the ocean?

this is my funny sketch about football, when we decide to play football, its needed not only fighting on the pitch, but also a luck. 

Tugu Muda dari Seberang Jalan


Cahaya lampu kota semarang pada malam itu mengantarkanku pada sebuah kawasan Tugu Muda, Tugu yang khas di kota semarang menancap pada bundaran jalan, malam Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB. mengendarai motor berkeliling Kota Semarang.

Tugu Muda biasa ramai dikunjungi wisatawan lokal, ataupun para pemuda untuk sekedar berfoto. di sebelah timur ada tempat yang ramai dikunjungi tiap malam sebagai ajang uji nyali yaitu Bangunan Lawang Sewu. tapi karena susah untuk berhenti di barat bunderan, maka aku menepi di sebelah selatan jalan, dan inilah hasilnya.

Aku berhenti tepat menghadap gedung pandanaran, gedung milik pemerintah Kota Semarang, pernah sekali masuk ke gedung itu, naik hingga lantai 8 (dinas kebudayaan) karena ingin meminjam satu set gamelan untuk acara kampus.

Sabtu, 10 Maret 2012

Sekayu

gambar by me

Sisi lain dari kota semarang, suasana gang siang hari yang sepi, gang menuju masjid kuno sekayu. 


Kamis, 08 Maret 2012

Warung Angkring

beginilah mahasiswa jika akhir bulan 
gambar: by me
Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ' Angkring ' yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Solo dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa a la kampung") atau wedangan. Gerobag angkringan biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, ia mengandalkan penerangan tradisional yaitu senthir, dan juga dibantu oleh terangnya lampu jalan.
Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telur puyuh, keripik dan lain-lain. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dansusu. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.
Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial. Mereka menikmati makanan sambil bebas mengobrol hingga larut malam meskipun tak saling kenal tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentang topik-topik yang serius. Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekedar melepas lelah.
Akrabnya susana dalam angkringan membuat nama angkringan tak hanya merujuk kedalam tempat tetapi ke suasana, tak jarang pengusaha membuat restoran yang memiliki konsep kesederhanaan angkringan. Bahkan ada angkringan yang dilengkapi dengan wi-fi, televise lcd, dll.

.