Kamis, 26 Januari 2012

Akhirnya nulis lagi, setelah sekian lama..
kali ini petualanganku berlanjut, diantara bukit, pohon-pohon yang rindang, dan semilir angin. namun kembali harus dihiasi oleh derasnya suara hujan, tapi tetap akan selalu ada cahaya yang muncul dari celah mendung.

entah dari mana aku bisa melihat gambaran masa depan, hal ini karena aku singgah di sebuah rumah kenangan. bisa dianggap rumah kenangan, karena nampak didalamnya tersimpan kotak memori dari sebuah kehidupan. memori yang indah bagi seorang nenek dimana baru saja kehilangan sang pahlawan hatinya.

ketika menjadi tua sepertinya tidak akan banyak berharap apa-apa lagi selain perhatian dari anak-anaknya. sebenarnya senang jika melihat anak-anaknya sukses, hal tersebut tidak dipungkiri lagi. orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. lambat laun, mereka menyksikan satu persatu dari anaknya akan 'pergi' untuk menjalani hidup. dan pada akhirnya mereka akan tinggal sendiri di rumahnya. mungkin akan datang setiap bulan, minggu, bahkan hari sebuah amplop dan bingkisan berisikan materi dari anak-anak mereka. tapi sebenarnya bukan itu yang mereka inginkan, mereka hanya ingin melihat wajah dan berbicara pada anak-anaknya secara langsung

teringat sebuah cerita, dimana hidup seorang ibu bersama dua orang anaknya yang tinggal di sebuah desa. anak pertama laki-laki memiliki cita-cita ingin menjadi fotografer terkenal, anak yang kedua perempuan ingin menjadi dokter. pada suatu ketika mereka berkumpul di ruang keluarga yang kecil dan sederhana. sambil bersandar pada ibunya mereka mengungkapkan keinginan mereka kelak ketika dewasa. sang ibu pun bangga dengan semua keinginan dari anak-anaknya, pada suatu hari anak laki-laki berkata pada ibunya sambil membawa selembar kertas.

"ibu, jika aku besar nanti kita akan berfoto bersama ya, tapi karena aku masih SD jadi hanya gambar ini, ini aku, adek, dan yang ini ibu hehe" sambil menunjukkan gambarannya pada ibunya.

si ibu pun tersenyum melihat gambaran dari anak laki-laki. walaupun begitu si ibu pun tetap memuji gambar anak laki-lakinya. dan pada saat yang bersamaan anak perempuannya bermain dokter-dokteran. kadang-kadang lucu juga karena si ibu berfikir justru ibulah yang menjadi dokter untuk anak-anaknya.

setelah dewasa anak-anak ibu sudah berhasil menggapai mimpinya, kakak sudah menjadi fotografer terkenal dan namanya selalu menjadi top foto majalah, ia tinggal di kota dan kadang harus pergi ke luar negeri. adek juga berhasil menjadi dokter spesialis dalam di kota. mereka berdua jadi sangat sibuk dan jarang untuk pulang ke desa. dari balik jendela si ibu pun menunggu dengan sabar kedatangan mereka, hanya rasa rindu yang mendalam tanpa bertemu. dan pada akhirnya ibu pun semakin tua. ia menghabiskan waktunya untuk duduk dan berbaring. walaupun ada telepon dan bisa menghubungi kapan saja namun ibu takut mengganggu pekerjaan anak-anaknya. hingga ajal menjemput..

dari cerita di atas jadikanlah sebuah renungan, dan jangan sia-siakan mereka.
hujan pun berhenti, dan akhirnya tibalah waktunya untuk pulang kembali ke kos untuk persiapan petualangan berikutnya.    

Tidak ada komentar:

.